Jumat, 12 Agustus 2011

Kunci Kebahagiaan Hakiki


Alasan setiap manusia menuntut ilmu setinggi-tingginya baik dengan pendidikan formal di sekolah atau pelatihan-pelatihan, bekerja siang dan malam membanting tulang tanpa kenal lelah, mulai dari Pak Petani di sawah dan ladang sampai ke Pak Presiden di istana megah nan menjulang, adalah karena satu dorongan yaitu demi meraih kebahagiaan. Namun, mengapa kebahagiaan itu tak jua kunjung didapat? Mengapa hidup ini tetap saja terasa ruwet, sumpek, tidak bahagia walau kekayaan sudah ditangan, jabatan tinggi sudah berhasil diraih, bahkan popularitas sudah pula diperoleh.
Tulisan ini saya peruntukkan bagi mereka, para pencari kebahagiaan, tak terkecuali diri saya sendiri, agar dapat kembali mengingat apa hakikat sebenarnya dari usaha mencari kebahagiaan ini
Menurut kamus besar bahasa Indonesia, arti kata kebahagiaan adalah kesenangan dan ketentraman hidup yang bersifat lahir dan batin. Demi meraih kebahagiaan ini, manusia rela melakukan apa saja walau sampai harus melukai dirinya sendiri. Permasalahannya, kadang kita keliru dalam memahami konsep kebahagiaan yang akibatnya membuat kita keliru pula dalam cara mewujudkannya. Sudah menjadi pemahaman umum bahwa kebahagiaan itu bersumber dari tiga hal yaitu; kekayaan, popularitas, dan kekuasaan.
Sebut saja seorang ayah yang sedang menasehati anaknya untuk rajin belajar di sekolah. Sudah tidak asing lagi rasanya ditelinga kita bahwa sang Ayah akan berkata,
“rajin-rajin lah belajar di sekolah ya nak, agar kamu jadi orang pinter, kalo kamu pinter kamu bisa bekerja di tempat yang bagus, jadi kamu bisa punya uang yang banyak, bisa punya rumah yang bagus, bisa hidup layak dihargai dan dikenal masyarakat, dan tentu suatu saat bisa juga membantu orang-orang yang lemah”.
Sekilas, memang tidak ada yang salah pada kalimat sang ayah, bahkan mungkin terdengar mulia, karena sang ayah mendidik si anak agar menjadi orang yang dermawan. Namun, apakah kalau tidak bisa jadi orang kaya, lantas semua kebahagiaan itu akan sirna? Lalu bagaimana dengan nasib orang yang terlahir dengan kondisi tidak sempurna, seperti cacat tidak memiliki kaki atau tangan, sehingga tidak mampu melakukan apa-apa selain meminta pertolongan; atau bagaimana dengan nasib orang yang lahir dari keluarga miskin seperti dibelahan dunia Afrika sana? Jangankan memikirkan pendidikan, memikirkan masalah makanan untuk esok hari saja amatlah sulit. Apakah kebahagiaan hanya untuk mereka yang kebetulan bernasib baik lahir dengan kondisi sehat dan serba lengkap? Atau kebahagiaan hanya milik mereka yang sukses mendapatkan harta berlimpah, terkenal, dan punya jabatan penting? Dimanakah letak keadilan Tuhan?
Kesalahan dalam memahami konsep kebahagiaan dapat berakibat sangat fatal. Contohnya, fenomena yang terjadi di Jepang. Jepang dikenal dengan negara super power dalam hal kekuatan ekonomi, teknologi, maupun karakter manusianya yang sangat santun, taat aturan, pekerja keras, jujur, dan juga sangat ramah. Namun disisi lain, Jepang juga sangat terkenal sebagai negara yang sangat tinggi angka bunuh dirinya. Pihak kepolisian Jepang mencatat kasus bunuh diri di Jepang mencapai sekitar 33 ribu orang pada tahun 2009 atau sekitar 100 orang setiap harinya. Bayangkan! ada 100 orang setiap hari bunuh diri di Jepang. Celakanya, fenomena bunuh diri ini berada pada urutan tertinggi dari penyebab kematian di Jepang untuk orang yang berumur antara 20-39 tahun, yaitu umur produktif dalam bekerja.
Lembaga-lembaga penelitian masyarakat mengungkapkan bahwa penyebab utama dari tingginya angka bunuh diri ini adalah karena depresi mental akibat tekanan ekonomi dan sosial. Sungguh paradoks rasanya mengingat Jepang sebuah negara yang kaya, dengan penduduknya yang rata-rata berpendidikan tinggi, fasilitas pemenuh kebutuhan dan kesehatan tersedia dengan lengkap, namun tetap saja masyarakatnya tidak juga dapat memperoleh kebahagiaan; sehingga memilih mati bunuh diri karena putus asa menjalani pahitnya kehidupan.
Dalam upaya meraih kebahagiaan, sering kali kita keliru dalam membedakan mana kesenangan dan mana kebahagiaan. Hal ini mengakibatkan kita terjebak pada kesenangan yang tidak membawa pada kebahagiaan. Untuk itu kita harus dapat membedakan dengan baik antara kesenangan dan kebahagiaan.
Menurut ilmu kedokteran, kesenangan adalah aktifitas yang dapat diamati secara fisik pada otak manusia yang terjadi akibat dirangsangnya saraf “pusat kesenangan” atau “pleasure center”. Saraf yang dirangsang ini akan menghasilkan mekanisme hormonal, yaitu keluarnya suatu zat kimia dari neuron di otak yang mengakibatkan timbulnya rasa enak, senang, dan nikmat. Jadi, untuk memperoleh rasa senang, mudah saja caranya, yaitu dengan merangsang saraf pusat kesenangan ini, misalnya dengan obat-obatan tanpa perlu bekerja atau bersusah payah. Sayangnya hal ini tidak dapat bertahan lama. Sementara kebahagiaan adalah keadaan yang berlangsung lama, tidak sementara, yang berhubungan dengan penilaian pada kehidupan secara keseluruhan. Kegagalan dalam membedakan makna kesenangan dan kebahagiaan membuat kita sering kali terfokus pada pemenuhan kesenangan, bukan kebahagiaan itu sendiri.
Tidak semua kesenangan membawa kebahagiaan. Sudah sering kita temukan fakta-fakta bahwa orang-orang yang secara umum dianggap bahagia, malah tidak merasa bahagia. Contohnya artis-artis terkenal yang malah stres karena tidak memiliki kehidupan pribadi yang normal akibat ketenarannya sendiri, seorang politikus yang malah menjadi sakit jiwa karena bangkrut akibat kalah kampanye, atau seorang konglomerat kaya raya yang merasa depresi tidak bahagia karena keluarganya berantakan kurang perhatian dan kasih sayang. Lebih parahnya lagi, pemenuhan kesenangan untuk mencapai kebahagiaan ini justru yang alih-alih menjadi salah satu penyebab utama rusaknya moral masyarakat, sehingga terjadi masalah kecanduan obat-obat terlarang, miras, penyakit sex karena gaya hidup bebas, pencurian, perampokan, korupsi, pembunuhan, dan tindakan kriminal lain yang dilakukan demi mendapatkan kebahagiaan, padahal yang diperoleh hanya kesenangan sementara.
Allah SWT berfirman pada Al-Qur’an surat Thaahaa ayat 124;
“dan Barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. (Q.S.Thaahaa (20) : 124)
Rekan-rekan pencari kebahagiaan, pada surat Thaahaa diatas sebenarnya Sang Pencipta telah dengan jelas memberikan jawaban atas sumber dari semua permasalahan kebahagiaan. Allah SWT mengungkapkan rahasia penting bahwa pengabaian kita terhadap aturan-aturan dan peringatan-Nya akan mengakibatkan setidaknya dua bencana besar.
Yang pertama adalah kehidupan dunia yang sempit. Hidup dirundung banyak masalah, silih berganti dari satu masalah ke masalah yang lain. Hidup terasa sumpek, stres, ruwet, dan tidak kunjung bahagia padahal harta dan kekayaan sudah ditangan, jabatan penting sudah berhasil diraih, bahkan popularitas sudah pula diperoleh.
Yang Kedua adalah yang paling parah, yaitu sudah lah tidak mendapatkan kebahagiaan di dunia, di akhirat pun sudah pasti akan mendapat siksa. Kita akan dikumpulkan dan diazab serta dibuat buta diakhirat nanti. Naudzubillah min dzalik.
Lalu apa yang harus kita lakukan agar dapat memperoleh kebahagian hidup? Pada ayat yang lain Allah SWT berfirman:
“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”. (Q.S.An-Nahl (16) : 97).
Sudah sangat tegas penjelasan Allah SWT pada surat An-Nahl ayat 97 ini bahwa satu-satunya cara memperoleh kebahagiaan atau kehidupan yang baik itu adalah dengan mengerjakan amal-amal sholeh; yaitu taat pada seluruh aturan-Nya dan menjalankan segala perintah serta larangan-Nya.
Inilah konsep kebahagiaan yang hakiki; yaitu tujuan hidup kita di dunia ini, baik itu dalam belajar, bekerja, ataupun berusaha, hanya satu saja “mendapatkan ridho Allah SWT”.
Kekayaan, popularitas dan kekuasaan tidak lagi menjadi tujuan utama; sehingga terlepas apakah sebuah usaha kita berhasil atau gagal, kita akan tetap merasa bahagia karena tujuan utama kita dalam berusaha adalah mendapatkan ridho Allah SWT, bukan kekayaan, popularitas, ataupun jabatan semata.
Seberat apapun cobaan, kesulitan, dan penderitaan yang dirasakan, akan dapat dilalui dengan ikhlas, mudah, dan hati lapang; karena kita yakin Allah SWT akan membalas semua usaha itu dengan ganjaran pahala yang berlipat ganda. Ini lah yang dimaksud dengan kehidupan yang baik pada surat An-Nahl (16) : 97 diatas, yaitu tercapainya kebahagiaan hakiki. Hidup jadi terasa ringan, mudah, simple, penuh makna, tidak sia-sia, dan tanpa beban, karena kunci kebahagiaan adalah bukan pada hasil tetapi pada cara mewujudkannya. Hati akan senantiasa ikhlas menerima apapun ketentuan Tuhan, karena yakin bahwa itu lah hasil terbaik yang diberikan Sang Maha Pengasih dan Penyayang.
Dengan konsep kebahagiaan hakiki ini, masalah ketidakadilan Tuhan yang saya kemukakan diawal tulisan ini dapat dengan mudah dipecahkan. Walaupun seorang manusia dilahirkan dengan kondisi cacat dan dari keluarga miskin sekalipun, atau semua usaha yang dilakukan berujung pada kegagalan dan penderitaan sekalipun, semua itu tidak akan membuatnya tidak bahagia dan putus asa apalagi sampai bunuh diri. Karena, sekali lagi, kebahagiaan hakiki diperoleh ketika ia berhasil mendapatkan ganjaran pahala atas apa yang diusahakannya; yaitu usaha yang dilakukan dengan dasar aturan-aturan yang ditetapkan dalam Al-Qur’an dan dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. Sebagai tambahan, dengan dilengkapi pemahaman yang baik dalam membedakan kesenangan dan kebahagiaan, kita jadi lebih pandai memilih kesenangan apa yang boleh dan baik untuk kita, sehingga pada akhirnya benar-benar tercapai kebahagiaan yang hakiki.
Akhirnya, agar kita selalu menjadi orang yang sukses, beruntung, bahagia, dan selalu mendapat petunjuk dari Allah SWT, izinkan saya menutup tulisan ini dengan mensitir Surat Al-Baqarah (1) ayat 2-5 yang artinya; “Kitab Al-Qur’an ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa. (yaitu) Mereka yang beriman kepada yang gaib, melaksanakan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang kami berikan kepada mereka, dan Mereka yang beriman kepada (Al-Qur’an) yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dan (kitab-kitab) yang telah diturunkan sebelum engkau, dan Mereka yakin akan adanya akhirat. Merekalah yang mendapat petunjuk dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
Karena itu, jadilah orang yang bertakwa jika ingin bahagia!
Semoga bermanfaat..!!!
Baca Selengkapnya - Kunci Kebahagiaan Hakiki

Rabu, 10 Agustus 2011

Peringatan Nuzul Qur'an

Assalamu Alaikum Wr. Wb.
Alhamdulillah Allahumma Rabbil Alamin Assamu Alal asrapil umbiyail walmursalin sidina Muhammad walaa ailihi washabi ajmain ambaad.
Pertama-tama marilah kita memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT. yangtelah memberikan nikmat kepada kita sekalian berupa kesehatan jasmani dan rohani. Sehingga pada malam ini kita masih bisa hadir di tempat ini guna melaksanakan peringatan Nuzul Quran.
Selanjutnya shalawat dan taslim atas junjungan Nabi besar Muhammad saw. yang mana beliau telah berhasil membawa misi agama Islam sampai kepenjuru pelosok dunia sehingga kita yang berada di belahan bumi ini kena pengaruh agama Islam, sehingga kita sekalian tahu mana ajaran yang diridhoi Allah dan mana yang murkainya, atau tepatnya, kita dapat membedakannya mana haq dn mana yang bathil. 
Hadirin hadirat yang sama-sama dimuliakan oleh Allah swt.
Pada kesempatan ini judul ceramah yang saya bawakan yaitu peringatan nuzul quran.
Hadirin hadirat yang sama-sama dimuliakan oleh Allah swt.
Seperti yang telah kita maklumi bahwa lailatul Qadr itu ada pada bulan ramadhan yaitu malam yang dimaksudkan dalam firman Allah yang artinya: “sesungguhnya kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya kami-lah yang memberikan peringatan” (As Dukhaan:3)
Dan karena penyepinya Rasulullah saw. di gua Hira’ adalah pada bulan ramadhan, dan kejadian turunnya Jibril as adalah di dalam gua Hira’.
Jadi Nuzul Qur’an ada [pada bulan Ramadhan, pada hari senin, sebab semua ahli sejarah atau sebagian besar mereka sepakat bahwa diutusnya beliau menjadi Nabi adalah pada hari senin. Hal ini sangat kuat karena Rasulullah saw ketika ditanya tentang puasa senin beliau menjawab: “Di dalamnya akau dilahirkan dan di dalamnya diturunkan (wahyu) atasku” (HR. Muslim).
Hadirin hadirat yang sama-sama dimuliakan oleh Allah swt.
Peristiwa Nuzul Qur’an bukanlah diharapkan agar dijadikan sebagai hari raya oleh umat ini, yang dirayakan setiap tahun, karena hari raya oleh umat ini, yang dirayakan setiap tahun, karena Islam bukanlah agama perayaan sebagaiaman halnya agama-agama lain.
Islam tidak memerlukan polesan, tidak perlu dibungkusa dengan perayaan-perayaan yang membuat orang-orang tertarik kepadanya.
Karena turunnya al-Qur’an bukan untuk diperingati setiap tahunnya, melainkan untuk memperingatkan kita setiap saat.
Memperingati peristiwa turunnya al-Qur’an bulanlah cara orang-orang shaleh yang muttaqin. Akan tetapi jejak ulama-ulama salaf adalah membaca al-Qur’an, membaca dan membaca lagi. Allah berfirman yang artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian dari rezeki yang kami anugrahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka  itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi”.
Apalagi di bulan Ramadhan, bulan al-Qur’an ini, Umar ra. berkata: “Saandainya kita  bersih, tentu akan merasa kenyang dari kalam Allah. Sesuhhnya aku amat tidak suka menakala datang sebuah hari sementara aku tidak membaca al-Qur’an. Karena itu beliau  tidak meninggal dunia sehingga mushafnya sobek karena seringnya dibaca.
Hadirin hadirat yang sama-sama dimuliakan oleh Allah swt.
Para tabi’in dan tabiittabi’in, karena begitu memahami arti dari Ramadhan, bulan al-Qur’an, dan begitu kuatnya daxlam mencintai al-Qur’an, maka bila bulan ramadhan tiba mereka mengkhususkan diri untuk membaca al-Qur’an seperti yang dilakukan oleh Imam Az-Zuhri dan Sufyan Ats-Tsauri. Sehingga dalam satu bulan khatam al-Qur’an berpuluh kali. Imam Qatadah umpamanya, di luar di luar  Ramadhan khatm setiap tuju  hari, di dalam Ramadhan khatam setiap tiga hari, dan di sepuluh hari terakhir khatam setiap hari, sementara Imam Syafi’I di luar Ramadhan setiap khatam du kali. Itu semua di luar shalat. Begitu ulama Ahlus Sunnah tidak pernah merayakan Nuzul Qur’an, namun setiap hari khatam al-Qur’an, ada yang sekali dan dapat yang dua kali. Sementara kita  sebulan Ramadhan jika khatam sekali saja maka sudah puas dan gembira. 
Wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Baca Selengkapnya - Peringatan Nuzul Qur'an

Minggu, 07 Agustus 2011

Jumat, 05 Agustus 2011

Khutbah Idul Fitri 1432 H: MAKNA TAQWA BAGI ORANG BERIMAN


Khutbah Hari Raya Idul Fitri 1432 H

MAKNA TAQWA
BAGI ORANG-ORANG YANG BERIMAN
(Refleksi Kandungan ayat 183 surat al-Baqarah)


الله أكبر الله أكبر الله أكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَّأَصِيْلاً لآإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَه، صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّجُنْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ لآإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنُ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْمُنَافِقُوْنَ. الْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ جَعَلَ رَمَضَانَ شَهْرُ الصِّيَامِ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَجَعَلَ عِيْدَ الْفِطْرِ ضِيَافَةً لِلصَّائِمِيْنَ وَفَرْحَةً لِلْمُتَّقِيْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لآإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَادِقُ الْوَعْدِ الأَمِيْن، اللهم فَصَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلهِ وَأَصْحَابِ الْكِرَامِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا، أَمَّا بَعْدُ: فَيَاعِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْن

§  Maha Suci Allah, yang telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.
§  Maha Kuasa Allah, yang telah menciptakan alam semesta sebagai tempat hidup bagi ummat manusia dan tempat.untuk berkarya mencari ridha-Nya.
§  Maha Kasih Allah, yang tidak pernah berhenti mencurahkan rahmat dan karunia-Nya – sekaligus membimbing manusia dalam memanfaatkannya.
§  Maha Adil dan bijaksana Allah dalam meratakan rizki dan hidayah-Nya. Hanya saja, manusia tidak pernah puas dan enggan mensyukuri nikmat rizki-Nya, serta selalu menghindar dari hidayah-Mu.
§  Maha Basar Allah, yang telah menetapkan bulan Ramadhan sebagai bulan bagi kaum yang beriman melakukan puasa, menahan diri untuk melebur dosa demi untuk mencapai puncak derajat keimanan – yaitu taqwa.
§  Dengan keagungan-Mu Engkau terima segala ampunan yang dimohon oleh pelaku puasa -seraya Engkau taburkan butiran pahala baginya. Sungguh beruntung orang-orang yang ihlas menegakkan ketetapan-Mu - dan merugi bagi mereka yang hanya melakukannya setengah hati, kurang ihlas, yaitu mereka yang berpuasa tetapi amalannya condong pada cinta dunia. Mereka lebih megutamakan kebiasaan mereka dari pada tuntunan syari’ah-Mu.
3
ALLAHU-AKBAR .... daripada-Nya kita datang di dunia ini dan kehadirat-Nya kita akan berpulang kelak.
Marilah kita agungkan Dia melalui asma-Nya, kita syukuri segala nikmat karunia-Nya, kita panjatkan puja dan puji kehadirat-Nya, seraya kita kukuhkan hati dan pikiran untuk memohon ampunan dan ridha-Nya.

الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحمد!
Jama’ah Ied. Rahimakumullah
Hari ini bilangan bulan Syawwal mulai menapaki harinya menjumpai kita dalam suasana fitrah, setelah ijtima' akhir Ramadhan kemarin berlalu meninggalkan kita dengan sejumlah kenangan, mulai dari kenangan suasana semarak sahur dan ramainya jalan-jalan di waktu pagi menyongsong matahari terbit, kenangan suasana gembira ketika berhadapan dengan sajian buka puasa, kenangan meramaikan masjid dengan shalat taraweh dan tadarus al-Quran, kenangan mengunjungi pasar senggol dan menyemarakkan malam tumbilotohe, sampai pada kenangan ketika hati kita bimbang menentukan shalat ied hari ini atau besok.
Itu semua telah kita alami bersama Ramadhan, walau sebenarnya masih banyak yang tidak sesuai dengan kehendak Ramadhan tersebut. Ramadhan menghendaki sahur dan buka puasa kita secukupnya, namun kita lakukan dengan penuh keserakahan karena takut akan kelaparan. Ramadhan menghendaki kita untuk membakar kecintaan terhadap dunia, namun yang kita lakukan malah lebih mencintai dunia. Ramadhan menghendaki persatuan dan persaudaraan antar sesama ummat manusia menjadi kuat, kokoh dan serempak, namun yang terjadi malah perbedaan yang menyolok karena adanya paham yang harus dipertahankan. Ramadhan menghendaki iman kita utuh bahkan bertambah, namun pada kenyataannya justru malah kebanyakan orang diantara kita, imannya menjadi acak dan berkurang. Hal ini terbukti dengan
adanya perlakuan kita yang lebih condong untuk menjadikan Ramadhan sebagai suatu model atau budaya, padahal Ramadhan itu ibadah yang tidak boleh terlepas dari perlakuan sebagaimana yang telah dituntunkan oleh Rasulullah Saw.

الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحمد!
Kaum Muslimin Jama’ah Ied Rahimakumullah
Kumpulan segala kenangan yang telah kita lalui bersama bulan Ramadhan ini haruslah kita jadikan sebagai bahan untuk mengoreksi diri kita terhadap semua perlakuan ibadah yang kita lakukan selama ini.
5        Sungguh Allah tidak memuji lezatnya atau melihat banyaknya makan sahurmu, Allah tidak menghendaki keserakahanmu diwaktu berbuka, Allah tidak menilai
amalanmu yang sia-sia, Allah tidak rela bila bulan Ramadhan- Nya dikotori oleh perbuatan maksiatmu.
Sungguh Allah tidak menerima rekayasa akal pikiranmu tentang kebutuhan akan dunia, Allah tidak meridhai budayamu yang merusak amalan ibadahmu kepada-Nya. Sungguh Allah tidak akan mendatangkan manfaat puasa bagi orang yang lalai menjalankannya.

الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحمد!
Sidang Jema'ah Ied. Rahimakumullah
Sesungguhnya Allah Swt. menilai puasamu hanya dengan imanmu, yaitu keyakinanmu akan keberadaan-Nya dan kepatuhanmu terhadap ibadah yang Dia syari’atkan melalui Rasul-Nya Muhammad Saw. Oleh karena itu Dia memanggilmu dengan sapaan yang penuh kasih sayang “Wahai orang-orang yang beriman”, kepada kaum yang melakukan ibadah puasa di bulan Ramadhan, dengan satu tujuan untuk menjadi orang-orang yang bertaqwa, yaitu orang-orang yang mampu melakukan perbuatan-perbuatan baik sesuai aturan-Nya sekaligus mampu memerangi kemungkaran terhadap diri dan lingkungannya.
6
الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحمد!
Kaum Muslimin Jama’ah Ied Rahimakumullah
Apapun yang terbetik di hati kita, yang ada dalam benak pikiran kita saat ini, tetap kita harus memiliki satu pengakuan bahwa hari ini adalah hari kemenangan bagi orang-orang yang diliputi rasa menang karena dengan susah payah telah berjuang melawan hawa nafsu, sekaligus sebagai hari perenungan untuk mengakui kesalahan dan tobat serta memohon ampunan-Nya karena telah kalah oleh godaan dunia dan hawa nafsu.
Hari ini adalah hari dimana Ramadhan menyatakan dirinya pergi meninggalkan kita semua dan pasti akan kembali untuk datang mengajak kita beribadah yang sepuas-puasnya dalam mencapai keridhaan Allah di dalam menapaki kehidupan dunia ini. Sungguh ia pergi dan pasti akan datang lagi namun kita semua tidak tau pasti apakah kedatangnya akan berjumpa dengan kita. Mungkin masih berbekas dalam hati dan ingatan kita, ketika orang-orang yang kita cintai, yang kita kasihi masih berada disekeliling kita. Saat ini, mereka tidak lagi bersama kita. Sungguh kekesalan hati seolah tak berujung, penyesalan terasa tak ada gunanya.7
Hari ini adalah hari dimana masjid-masjid mulai sepi dari suara azan lima waktu, sepi pengunjung yang dating berjama’ah, sepi dari suara lantunan ayat-ayat suci al-Qur’an, sepi dari keliaran anak-anak yang belajar shalat dan puasa, sepi dari kunjungan ibu-ibu yang mengaji tadarrus, sepi dari orangorang yang ihlas mengisi celengan dana pemeliharaan masjid.
Hari ini adalah hari dimana iblis-iblis memasang spanduk selamat datang kepada kita, mengajak kita untuk bergabung bersamanya dalam merekayasa kehidupan dunia inidengan kemaksiatan, keserakahan, kebohongan, penipuan, pemalsuan, penindasan, penyalah-gunaan wewenang dan perlakuan sewenang-wenang terhadap kaum yang lemah.
Hari ini adalah hari dimana kita mengukur nilai keimanan kita kepada Allah beserta ketundukan kita untuk melakukan segala syari’at-Nya, meneguhkan keyakinan kita untuk menyata-laksanakan nilai taqwa yang telah menjadi kewajiban kita sebagai makhluk yang hanya menumpang di bumi Allah ini.

الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحمد!
Kaum Muslimin Jama’ah Ied Rahimakumullah
Dengan memperhatikan kenyataan sebagaimana tersebut, marilah kita mempertanyakan kembali akan keberadaan diri kita, terhadap nilai dan makna puasa yang baru saja laksanakan.
Sudahkan kita menghitung berapa kali kita mencuri ?, berapa kali kita berbohong ?, berapa kali kita menipu ?. berapa banyak kita mengkonsumsi makanan yang haram yang bukan hak kita ?.
Sudahkah kita menghitung berapa kali kita menghardik orang tua kita ?, berapa kali menyakiti hati orang lain ?, berapa kali kita menggunjing, mengumpat dan menghina ? Tahukah kita bahwa semua itu adalah sama dengan memakan daging saudaranya yang mati ?
Sudahkah kita menghitung-hitung berapa lama kita telah meninggalkan kewajiban shalat, berapa banyak hari puasa kita yang rusak dan yang sengaja kita ditinggalkan ?. Sudah berapa banyak jumlah zakat yang kita keluarkan ?, sudah berapa tahun kita menunda untuk pergi ibadah haji padahal kita memiliki kemampuan untuk itu ?. sudahkah kita menjadikan al-Qur’an sebagai pedoman hidup bagi kita yang telah menyatakan diri orang Islam ?.
Sungguh masih banyak lagi yang seharusnya kita pertanyakan pada diri kita, dan ternyata betapa banyaknya dosa-dosa yang telah menutupi jasad ini, sehingga diri kita hanya sepantasnya di siksa di dalam kubur dan di bakar di neraka.9
Wahai ummat yang saat ini hadir mendengar khutbah saat ini, sungguh telah banyak dosa yang kita pelihara, sungguh banyak kesalahan yang telah kita banggakan, dan sungguh masih banyak lagi dosa dan kesalahan yang mungkin telah kita rencanakan dan menanti seluruh indra kita untuk melakukannya.
Marilah kita terus bertanya dan senantiasa mengingat kesalahan dan dosa, karena dengan demikian berarti kita mendekatkan diri pada tobat - dan tobat sungguh mendekatkan kita pada kasih sayang Allah.
Sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan Maha Pengasih, sehingga betapapun banyaknya kesalahan kita, sungguh masih lebih banyak kasih sayang-Nya, dan betapapun besarnya dosa kita, sungguh masih lebih besar ampunan-Nya, selama kita mau menyadari arti kehidupan ini - dan mau merubah cara hidup kita sesuai dengan tuntunan-Nya.
Sungguh masih ada amalan Rasulullah yang patut dijadikan amalan dalam memelihara taqwa kita dari pengaruh iblis yang terkutuk. Kalau saja puasa kita rasakan dapat mencegah kita berbuat maksiat, maka maukah kita berpuasa di luar bulan Ramadhan, sebagai benteng pertahanan dari pengaruh godaan syetan ?.
10
الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحمد!
Kaum Muslimin Jama’ah Ied Rahimakumullah
Semoga kita semua Allah jadikan sebagai orang-orang yang senantiasa memelihara diri dengan mengingat akan segala dosa dan kesalahan kita, dan semoga Allah memberkahi niat kita untuk menjadi orang-orang yang senantiasa bertobat atas dosa dan kesalahan tersebut, Amin yaa Rabbal 'alamin.
Akhirnya, marilah kita berdo’a - bermunajad kepada- Nya. Dia Allah yang telah menciptakan kita semua, Dia Allah tempat kita memohon ampunan, dan Dilah Allah tempat kita akan kembali nanti.
Yaa Allah, bukalah pintu tobat bagi kami agar kami senantiasa memohon ampunan atas segala dosa dan kesalahan kami, jika seandainya pantas bagi kami maka panjangkanlah usia kami, hingga kami dapat bertemu dengan bulan Ramadhan-Mu yang penuh rahmat, berkah dan ampunan-Mu.
Yaa Allah, sucikanlah hati untuk melepas kepergian bulan suci, walau sungguh banyak amalan kami yang masih kotor, bahkan menjijikkan - izinkanlah kami menyambut datangnya bulan kemenangan, walau kami sebenarnya tak pastas bersamanya karena kegagalan yang kami sengajakan untuk meraihnya.11
Ya Allah Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang. Sertakan kami bersama orang-orang yang berbuat baik, dan masukkanlah kami kedalam golongan orang-orang yang "mukhlishina lahuddin", yaitu orang-orang yang senantiasa mengikhlaskan ketaatan hanya kepada-Mu. Jadikanlah kami semua orang-orang yang bertaqwa.

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْلَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّا مِنَ الخَاسِرِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِىالآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّار
وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

Baca Selengkapnya - Khutbah Idul Fitri 1432 H: MAKNA TAQWA BAGI ORANG BERIMAN

Kamis, 04 Agustus 2011

KRITIK MENGGELITIK DALAM PANDANGAN ISLAM


Ada dua pepatah yang sudah sangat familiar di telinga kita, yaitu “nobody’s perfect” dan “tak ada gading yang tak retak”. Maknanya, tidak ada manusia yang sempurna karena kesempurnaan hanya dimiliki oleh Allah Swt. Setiap orang memiliki kelemahan dan kekurangan, namun setiap orang juga pasti memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh orang lain. Kekurangan yang dimiliki bertujuan agar kita tidak menjadi pribadi yang sombong dan kelebihan yang dimiliki bertujuan agar kita menjadi pribadi yang bersyukur.
Manusia adalah makhluk yang lemah.  Dari tukang becak sampai presiden sekalipun, pasti memiliki kekurangan dan pernah berbuat salah. Bahkan, Nabi Muhammad saw, pemimpin terhebat sepanjang sejarah umat manusia – menjadi urutan nomor 1 dalam daftar 100 orang paling berpengaruh di dunia dalam buku Michael Heart – pernah dikritik oleh Allah Swt saat beliau menghiraukan seorang buta bernama Abdullah bin Ummi Maktum yang datang kepadanya ingin bertanya tentang Islam.
Saat itu dikisahkan Nabi Muhammad saw bermuka masam dan memalingkan pandangan dari si buta karena sedang menjamu para pembesar Suku Quraisy. Atas sikapnya ini, Allah Swt langsung mengkritik beliau yang diabadikan di dalam Al-Quran Surat ‘Abasa.Kalau seorang Nabi saja pernah kena kritik, apalagi kita yang manusia biasa? Hehehe.. Terkadang memang berat untuk menerima kritik. Tapi ya kritik ini adalah ujian, dan yang namanya hidup ya pastinya penuh ujian. Seperti apa yang pernah disampaikan oleh Socrates.
“Hidup yang tidak teruji adalah hidup yang tidak layak untuk dihidupi. Hanya ada satu tempat di dunia ini dimana manusia terbebas dari segala ujian hidup, yaitu KUBURAN. Tanda manusia tersebut masih hidup adalah ketika dia mengalami ujian, kegagalan, dan penderitaan. Lebih baik kita tahu mengapa kita gagal, daripada tidak tahu mengapa kita berhasil”
Khalifah Ali bin Abi Thalib pernah berkata, “Jangan melihat siapa yang berbicara, tapi lihatlah apa yang dibicarakan”. Maknanya, kita harus bisa bersikap terbuka menerima kritik dari siapa saja, karena kebenaran bisa datang dari mana saja, bahkan seorang anak kecil atau mungkin dari seekor binatang.
Salah satu kisahnya adalah Nabi Sulaiman, seorang nabi yang diberikan kecerdasan serta mukjizat luar biasa dari Allah Swt. Dia adalah raja pada zamannya, yang bahkan jin pun tunduk kepadanya. Namun tetap saja masih ada ilmu pengetahuan yang tidak diketahui oleh beliau, dan pengetahuan tersebut malah diketahui oleh seekor burung kecil bernama Hud-Hud, yang kemudian memberikan kritik kepada Nabi Sulaiman.
“Maka tidak lama kemudian (datanglah Hud-Hud) lalu ia berkata, ‘Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya; dan kubawa padamu dari Negeri Saba suatu berita penting yang diyakini.’” (QS. An-Naml [27]: 33)
Belajar Dari Nabi Ibrahim
Di dalam Al-Quran banyak kisah tentang kritik yang dilakukan para nabi, dan salah satunya adalah Nabi Ibrahim as yang mengkritik ayahnya sendiri yang masih setia menyembah berhala. Mari kita simak bersama bagaimana Nabi Ibrahim mengkritik kesalahan dan kekeliruan ayahnya yang terangkum dalam QS. Maryam [19]: 41-43.
QS.19:42. “Ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya, ‘Wahai ayahanda tercinta, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun?’”
QS.19:43. “Wahai ayahanda tercinta, sesungguhnya telah datang kepadaku sebahagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus.”
QS.19:44. “Wahai ayahanda tercinta, janganlah kamu menyembah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah, Allah Swt.”
QS.19:45. “Wahai ayahanda tercinta, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa azab dari Tuhan Yang Maha Pemurah, maka kamu akan menjadi kawan bagi syaitan.”
Mari kita telaah dan analisa bersama. Dalam ayat di atas, kita bisa menyimak bagaimana gaya bahasa Nabi Ibrahim ketika mengkritik ayahnya yang dimulai di ayat ke-42. Nabi Ibrahim menggunakan kata “yaa abatii” yang berarti “wahai ayahanda tercinta”. Nabi Ibrahim tidak menggunakan kata “yaa abii” atau “ayahku” meskipun bermakna sama. Panggilan dengan menggunakan “yaa abatii” adalah panggilan kasih sayang.
Nabi Ibrahim tahu betul bahwa ayahnya telah melakukan kesalahan yang fatal karena menyembah patung, namun dia tidak pernah menghujat ataupun mengecam ayahnya. Dia tetap memanggil ayahnya dengan panggilan penuh hormat dan santun. Penghormatannya tidak berkurang sedikitpun.
Memang seperti itulah ajaran Islam. Jika orang tua musyrik dan mengajak kita kepada kemusyrikan, maka sebagai anak kita tidak perlu patuh terhadap apa yang mereka perintahkan. Namun kita tetap harus menghormati mereka sebagai orang tua.
Allah Swt berfirman, “…Dan jika mereka (orang tua) bersungguh-sungguh mempengaruhimu supaya kamu menyekutukan Aku dengan sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, maka janganlah kamu turuti mereka. Tetapi berkawanlah dengan mereka di dunia ini dengan cara yang baik; dan ikutilah jalan orang bertaubat kepadaku; kemudian kepada-Ku lah tempat kembalimu, maka akan kujelaskan kepadamu apa-apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Luqman: 14-15)
Ayat di atas menjelaskan bagaimana sikap kita dalam menghadapi ajakan orang tua untuk menyekutukan Allah. Kita tidak perlu patuh terhadap perintah kemusyrikan mereka namun kita harus tetap hormat dan baik dengan mereka. Hal ini karena kemusyrikan orang tua dengan hormatnya kita kepada mereka adalah dua hal yang berbeda.
Kemusyrikan mereka berurusan langsung dengan Allah SWT (habluminallah) dan bakti kita terhadap orang tua adalah hubungan antarsesama manusia (habluminannaas). Inilah indahnya ajaran yang dibawa oleh Islam dalam hal hubungan antarsesama manusia, terutama terhadap orang tua. Sebuah keindahan yang tidak dapat dicapai oleh agama apapun, selain Islam.
Selanjutnya, setelah Nabi Ibrahim memanggil ayahnya dengan panggilan hormat dan sayang, dia mulai menyampaikan kritiknya dengan pertanyaan, “Kenapa ayahanda menyembah sesuatu yang tidak bisa mendengar, melihat atau berbuat apa-apa?” Dalam hal ini, Nabi Ibrahim mencoba mengajak ayahnya untuk berpikir bersama tentang kekeliruan yang dilakukan dan tidak langsung memvonis, “Anda sesat wahai ayah, tempatnya di neraka tuh, ati-ati!” hehe..
Itulah salah satu cara menyampaikan kritik yang baik. Ayahnya pun yang diberikan pertanyaan oleh Nabi Ibrahim tidak bisa menjawab pertanyaan tersebut. Selanjutnya baru setelah itu Nabi Ibrahim melanjutkan kritiknya dengan memberikan saran, seperti yang tertulis di ayat 43, “Wahai ayahanda, sungguh telah datang kepadaku sedikit ilmu yang mungkin tidak engkau miliki maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus”.
Nabi Ibrahim dengan rendah hatinya mengatakan bahwa dia hanya punya ‘sedikit ilmu’ yang bisa mengantarkan ayahnya ke jalan yang lurus. Ya kurang lebih seperti itulah cara menyampaikan kritik dan saran yang terbaik. Jangan ada kesan seolah-olah kita ini yang paling hebat, paling pinter, paling tau segalanya. Bisa-bisa bukannya kita yang mengkritik, malah nanti kita yang kena kritik, “Ahh dasar sotoy lo!” :D
Setelah itu di ayat 44 dan 45, barulah Nabi Ibrahim menyampaikan masukan dan memberikan peringatan tegas kepada ayahnya untuk tidak mengikuti langkah-langkah syetan dengan menyembahnya, karena akan terkena azab Allah Swt.
Seni Mengkritik
Berikut adalah sedikit tips & tricks dari saya dalam mengkritik seseorang.
1. Luruskan niat. Saat kita ingin mengkritik seseorang, baik itu teman, sahabat, pacar, mantan, gebetan, HTS-an, ataupun yang lainnya, pertama kalinya yakinkan diri bahwa kritik yang disampaikan bertujuan untuk membuat orang-orang tersebut tahu akan kesalahannya dan berubah menjadi pribadi yang lebih baik.
2. Lihat situasi dan kondisi. Sebelum ngasi kritik, cari dulu waktu yang tepat dan enak untuk berdiskusi. Contoh waktu yang tidak baik misalkan seorang istri mengkritik suaminya di waktu sang suami abis pulang dari kantor dengan tampang kusut dan muka kelipet. Kalo seperti itu kejadiannya, sudah bisa dipastikan terbang semua itu piring-piring di rumah hehehe..
3. Jangan emosi. Sampaikan kritik dengan tenang tanpa emosi, karena biasanya kalo marah bicaranya akan jadi ngalor ngidul dan tidak jelas apa yang ingin disampaikan, sehingga bisa terjadi kesalahpahaman. Caranya juga harus manis, seperti misalkan ajak dulu minum kopi atau makan bakso bareng. Setelah kenyang, baru deh silahkan menyampaikan kritik kepada orang yang bersangkutan, sukur-sukur dia ga tidur karena kekenyangan.
4. Pakai bahasa yang santun. Kritik itu penting bos, namun yang lebih penting adalah cara menyampaikannya agar orang yang dikritik tidak merasa direndahkan, dilecehkan ataupun disakiti perasaannya. Janganlah memanggil dengan panggilan dari makhluk-makhluk planet mars seperti monyet, kuda, kerbau, domba, dlla. Namun, panggillah dengan panggilan hormat dan sayang sehingga kritik yang disampaikan bisa diterima dengan baik. Bagaimana mungkin seseorang akan menerima kritikan dan saran jika hati dan perasaannya sudah tersakiti?
5. Jangan mempermalukan. Pantangan dalam mengkritik adalah jangan sekali-kali mengkritik didepan orang banyak. Karena hal itu dapat diartikan sebagai upaya mempermalukan dirinya. Nanti yang ada malahan orang yang dikritik lebih sibuk membela diri dan yang lebih parahnya lagi, mungkin bisa sampe kencing di celana karena menahan rasa malu dikritik depan orang banyak hehehe..!!
Seni Menerima Kritik
Setelah belajar seni mengkritik, nah sekarang belajar seni menerima kritik. Menurut saya pribadi, jauh lebih sulit menerima kritik daripada memberikan kritik. Saya pun terkadang kalo terima kritik rasanya kuping panas bener hahaha.. Karena kalo cuma mengkritik sih semua orang juga bisa, makanya kenapa biasanya komentator sepakbola itu lebih jago dari pemain bola itu sendiri.
Orang harus bisa menerima kritik, karena kalau kita hanya dikelilingi oleh orang-orang yes-man atau ABS (Asal Bapak Senang) maka disitulah awal kehancuran. Pertanyaannya sekarang, apa yang harus dilakukan untuk bisa menerima kritik? Nah berikut tips & tricks nya ya. Karena menerima kritik lebih susah dari mengkritik, saya kasih tipsnya banyakan.
1. Shut up and listen! Ini hal yang paling penting. Biasanya nih ya saat orang memberikan kritik, bukannya kuping kita yang mendengarkan dengan baik, tapi malah mulut kita yang sibuk mencari pembenaran atas apa yang dilakukan. Betul kan? Nah makanya hal yang paling baik dalam menerima kritik adalah diam dan dengarkan. Dengerin dulu apa yang mau disampaikan, kalo orangnya udah selesai ngomong baru sampaikan klarifikasi kita.
2. Jangan bersikap defensif atau membela diri. Sedikit banyak mirip dengan yang pertama. Biasakan untuk tidak langsung menolak kritik yang disampaikan orang lain, apalagi bereaksi berlebihan alias lebay-dot-com. Karena biasanya, saat orang tidak defensif terhadap kritik, orang yang mengkritik pun akan dengan senang hati akan menolong. Tapi kalau sikap kita defensif, bisa jadi nanti malah disumpahin, “Udah biarin aja dikasitau juga ga mau denger. Liatin aja nanti kena batunya nih anak!” Nah gawat kan? Hahaha..
3. Kenyataan tidak ada manusia yang sempurna. Seperti yang sudah kita tahu bersama bahwa tidak ada manusia yang sempurna karena kesempurnaan hanya dimiliki oleh Allah Swt. Manusia itu tempatnya salah dan alpa. Jadi kalo ada yang mengkritik, yaudah terima aja sebagai kenyataan bahwa kita jauh dari kata sempurna.
4. Semangat memperbaiki diri. Pada Prinsipnya setiap orang itu kan ingin menjadi lebih baik. Makanya yakinkan diri kalo ada kritik yang datang, positive thinking aja ini untuk kebaikan diri sendiri. Kritik akan menunjukkan kekurangan kita sehingga dapat segera diperbaiki.
5. Perhatikan isi kritik dengan seksama. Memang sih yang namanya kritik itu biasanya pedas, ganas, trengginas, dan bikin telinga panaasss! Tapi jangan keburu emosi dulu bos, pikirkan sisi baik dari kritik tersebut. Orang mempunyai kecenderungan hanya mendengar hal-hal negatif dari sebuah kritik dan tidak menghiraukan hal-hal positif yang sesungguhnya bisa diambil. Selalu ambil hal yang positif untuk menghindari kesalahan yang sama di masa depan.
6. Never take it personally. Hillary Clinton pernah berkata, “Take criticism seriously, but not personally. If there is truth or merit in the criticism, try to learn from it. Otherwise, let it roll right off you.” Maknanya adalah, ambil kritik secara serius untuk melihat apa memang benar ada kesalahan dalam diri kita, dan bukan secara personal. Maksudnya personal disini adalah, misalkan kita abis dikritik sahabat kita, karena kita kesel, akhirnya putus silaturahmi.
7. Selalu bersyukur. Kalau ada orang yang mau mengkritik kita, itu artinya dia sayang dan peduli sama kita. Jadi harus banyak-banyak bersyukur jika ada yang mengkritik karena orang tersebut mau mengorbankan waktu dan perhatiannya untuk kita. Always say thanks and be grateful okey!
8. Nikmati dan enjoy aja. Kritik itu pada dasarnya hal yang normal, tergantung respon kita mau menanggapi dengan senyum, marah, cemberut atau nangis. Nikmati setiap masukan yang diberikan orang lain, meskipun mungkin cara penyampaian kritik yang diberikan tidak sesuai dengan yang kita inginkan.
9. Cuekin kalo kritiknya destruktif (menjatuhkan). Kalau kita mendapat kritik yang bersifat destruktif dan bukan konstruktif (membangun), maka cara yang paling efektif adalah, cuekin aja!! hehehe.. Karena kalo kita dengerin, yang ada nanti mempengaruhi pikiran kita dan produktivitas jadi terganggu. Contoh kritikan destruktif biasanya diselipi kata bodoh, dodol, odong, atau kata-kata lainnya yang bisa melemahkan rasa percaya diri.
10. Focus to your next step. Ini dia nih pamungkasnya. Saat mendapat kritik, ya sudah akui memang kita salah, tapi jangan terus menerus terpaku dengan kritik yang didapat tanpa melakukan hal apapun setelah itu. Hal yang harus kita lakukan adalah mengambil pelajaran dari kesalahan yang dilakukan lalu bangkit, memperbaiki diri dan menatap ke depan untuk masa depan yang lebih baik.
Yak, sekian tulisan tentang kritik menggelitik, semoga bisa bermanfaat bagi teman-teman semua. Tulisan ini juga menjadi pengingat bagi diri saya pribadi. Satu hal yang pasti, kritik itu seperti obat, yang mungkin terasa pahit di awal, tapi ada kebaikan yang dibawa, yaitu untuk membuat kita tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik dan berkembang.
.
Baca Selengkapnya - KRITIK MENGGELITIK DALAM PANDANGAN ISLAM