Jumat, 17 Juni 2011

Generasi Yang Kehilangan Orientasi Hidup


إن الحمد لله وحده, نحمده و نستعينه و نستغفره ونتوب اليه ونعوذ بالله من شرور أنفسنا وسيئات أعمالنا من يهده الله فهو المهتد ومن يضلله فلن تجد له وليا مرشدا, أشهد أن لا اله الا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله بلغ الرسالة وأدى الأمانة ونصح للأمة وتركنا على المحجة البيضاء ليلها كنهارها لا يزيغ عنها الا هلك, اللهم صل وسلم على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن دعا بدعوته الى يوم الدين. أما بعد, فيا عباد الله اوصيكم ونفسي الخاطئة المذنبة بتقوى الله وطاعته لعلكم تفلحون. وقال الله تعالى في محكم التنزيل بعد أعوذ بالله من الشيطان الرجيم :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ (ال عمران : 102)

Pertama-tama, marilah kita tingkatkan kualitas taqwa kita pada Allah dengan berupaya maksimal melaksanakan apa saja perintah-Nya yang termaktub dalam Al-Qur’an dan juga Sunnah Rasul saw. Pada waktu yang sama kita dituntut pula untuk meninggalkan apa saja larangan Allah yang termaktub dalam Al-Qur’an dan juga Sunnah Rasul Saw. Hanya dengan cara itulah ketaqwaan kita mengalami peningkatan dan perbaikan…
Selanjutnya, shalawat dan salam mari kita bacakan untuk nabi Muhammad Saw sebagaimana perintah Allah dalam Al-Qur’an :
أعوذ بالله من الشيطان الرجيم 

إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Sesungguhnya Allah dan malaikat-Nya bershalawat atas Nabi (Muhammad Saw). Wahai orang-orang beriman, ucapkan shalawat dan salam atas Nabi (Muhammad) Saw. ( Al-Ahzab : 56)

Kaum Muslimin rahimakumullah…!!!
Banyak peristiwa yang mendera masyarakat kita sepekan terakhir. Di antaranya ialah kekacauan para siswa SLTA dalam menanggapi pengumuman hasil ujian nasional (UN) tanggal 26 April yang lalu. Bagi siswa siswi yang lulus, banyak di antara mereka yang menyambutnya dengan hura-hura seperti konvoi di jalan raya sambil membawa kendaraan dengan ugal-ugalan sehingga membahayakan lalu lintas di berbagai jalan raya. Banyak pula yang berteriak-teriak sambil tertawa, berjingkrak-jingkrak dan mencorat-coret baju seragam mereka. Selain itu, banyak pula yang meluapkan kegembiraannya melalui pesta miras dan bermesraan dengan sesama teman sekolah lawan jenis. Hanya sedikit sekali yang melakukan sujud syukur pada Allah atas nikmat kelulusan yang Allah anugerahkan kepada mereka.
Bagi yang tidak lulus UN, mereka menanggapinya dengan berbagai tingkah yang tidak baik dan sama sekali tidak mencerminkan kematangan kepribadian sebagai hasil didikan keimanan selama bertahun-tahun sekolah. Banyak sekali yang berteriak-teriak histeris seakan nasib dan masa depan mereka hancur dan musnah. Ada pula yang merusak sekolah dan bertingkah tidak terpuji lainnya. Yang memprihatinkan lagi ialah ada yang bunuh diri seperti yang terjadi di Jambi.

Kaum Muslimin rahimakumullah…!!!
Kegaduhan UN ini telah terjadi beberapa tahun belakangan, khususnya sejak pemerintah menetapkan sistem nilai kelulusan ujian akhir secara nasional, tanpa melihat apakah sekolah tersebut sudah memiliki tenaga-tenaga pendidik yang handal dan fasilitas yang memadai atau tidak. Semua sekolah harus mengikuti standar nilai yang ditetapkan Departemen Pendidikan Nasional (Diknas). Akibatnya, tahun ini misalnya, bukan hanya banyak yang tidak lulus, bahkan lebih 260 sekolah yang satupun muridnya tidak ada yang lulus. Tak heran, jika sebagian pakar pendidikan dan masyarakat menilai bahwa UN adalah bentuk teror nasional yang dilancarkan pemerintah terhadap para siswa.
Sesungguhnya inti persoalannya bukan pada standar yang ditetapkan Diknas. Menurut beberapa pakar pendidikan, bahwa standar tersebut sebenarnya biasa-biasa saja; bukan hal yang mustahil dicapai oleh para siswa. Yang aneh dan perlu mendapat perhatian ialah tentang cara pandang siswa terhadap ijazah dan terhadap dunia pendidikan itu sendiri. Dari berbagai sikap yang muncul dalam menghadapi UN, baik yang lulus maupun yang tidak lulus, tercermin dengan jelas bahwa siswa atau anak didik kita saat ini sudah kehilangan orientasi hidup yang sebenarnya. Di mata mereka, ijazah itu seakan segala-galanya. Karena ijazah identik dengan pekerjaan atau perguruan tinggi. Sebab itu, sikap yang mereka munculkan baik mereka yang lulus maupun yang tidak lulus sangat memprihatinkan. Faktanya, ratusan ribu pengangguran adalah orang-orang yang terdidik, bahkan lulusan dari berbagai perguruan tinggi ternama.
Timbul pertanyaan mendasar: Siapa yang salah dan berkontribusi terhadap hilangnya orientasi hidup anak-anak didik kita saat ini? Bukankah mereka itu generasi masa depan yang akan menentukan baik dan buruknya negeri ini? Perlu kita sadari bahwa sesuai sunnatullah (ketetapan Allah), bahwa kita akan menuai apa yang kita tanam. Artinya, kondisi mental dan prilaku sebagian besar anak didik kita yang memprihatinkan itu adalah hasil apa yang kita tanamkan ke dalam diri mereka selama bertahun-tahun dan bahkan sejak mereka lahir. Kita telah gagal menanamkan iman dan taqwa ke dalam diri mereka, dan juga ilmu pengetahuan, baik dalam rumah tangga, institusi pendidikan dan juga dalam masyarakat. Pemerintah telah gagal menjadikan pendidikan sebagai lembaga character building (pembentukan karakter) iman dan taqwa. Akan tetap yang dibentuk adalah karakter sekulerisme dan materialisme yang amat membahayakan kehidupan generasi kita di dunia dan apalagi di akhirat kelak. Sebab itu, tidaklah mengherankan bahwa generasi kita sekarang sedang kehilangan orientasi hidup yang benar yang sesuai dengan apa yang digariskan oleh Allah Ta’ala sebagai Tuhan Pencipta mereka, Pencipta kita dan Pencipta Alam semesta.
Kosep pendidikan yang ada sekarang harus direformasi dan bahkan kalau perlu direvolusi. Lebih dari 60 tahun merdeka, pemerintah hanya melahirkan generasi sekuler dan materialis. Kondisi seperti ini akan mengancam kehidupan umat Islam di negeri ini. Berbagai kejahatan yang sudah mengakar saat ini, seperti korupsi, prilaku hedonis, gaya hidup konsumtif dan sebagainya adalah hasil apa yang ditanamkan dalam pendidikan masa lalu. Kalau kita serius untuk merubah dan mereformasi kondisi semrawut seperti sekarang ini, kita harus memulainya dari dunia pendidikan. Kalau kita gagal mewujudkan pendidikan sebagai wadah dan institusi pembentukan karakter iman dan taqwa kepada anak didik kita sekarang, maka masa depan negeri ini akan tetap sepeti apa yang kita saksikan hari ini, dan tidak mustahil lebih parah lagi.

Kaum Muslimin rahimakumullah…
Banyak hal yang perlu kita benahi dari dunia pendidikan sekarang, di antaranya adalah konsep pendidikan yang diterapkan. Kita harus mampu merancang sebuah konsep pendidikan yang efektif dan mampu menanamkan karakter iman dan taqwa kepada anak didik sehingga mereka memiliki orientasi hidup yang benar yang sesuai dengan maksud dan tujuan Allah menciptakan mereka. Kalau orientasi itu sudah melenceng dan menyimpang, maka generasi kita akan menjadi generasi yang tidak kenal Tuhan Penciptanya dan tidak pula mengenal diri mereka sendiri. Dari sinilah awal malapetaka dan berbagai penyimpangan manusia itu muncul. Manusia yang tidak mengenal Allah dan tidak pengenal dirinya, mereka akan hidup liar di dunia ini dan merusak kehidupan ini yang pada akhirnya akan merugikan dan mencelakakan orang lain, termasuk dirinya sendiri. Sebaliknya, manusai yang mengenal Allah dan dirinya dengan baik, insyaa Allah mereka akan menjadi pribadi-pribadi yang sholeh yang bukan hanya mampu memberikan kesholehan (kebaikan) kepada dirinya, melainkan juga kepada orang lain. Pribadi-pribadi yang sholeh itu tidak lahir dari konsep pendidikan yang sekuler dan berorientasi duniawi atau materialistik. Akan tetapi, merka akaen lahir dari konsep pendidikan Islam yang mengajarkan dan menanamkan orientasi hidup manusia yang sebenarnya.
Terkait dengan orientasi hidup manusia, Allah menjelaskan dalam firman-Nya :
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ (56) مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ (57) إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ (58)
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk mengabdi kepada-Ku (56). Aku tidak menginginkan rezki dari mereka dan tidak pula Aku menginginkan makanan dari mereka (57). Sesungguhnya Allah, Dialah Pemberi rezki, yang memiliki kekuatan yang kuat (58)
Dari tiga ayat tersebut di atas kita dapat menyimpulkan hal-hal berikut :
1.      Manusia diciptakan Allah bukan untuk bermain-main dan hanya mengejar kepentingan duniawi. Akan tetapi, mereka diciptakan Allah untuk beribadah kepada-Nya dengan mentaati semua sistem hidup yang diciptakan-Nya untuk manusia agar mereka selamat di duni dan akhirat.
2.      Persoalann rezki dan kebutuhan hidup di dunia sudah Allah siapkan sedemikian rupa untuk manusia. Oleh sebab itu, manusia tidak perlu khawatir akan tidak kebagian rezki selama mereka berusaha dan berdoa serta pemerintahnya tidak zalim dan menerapkan sistem zalim yang hanya menguntungkan dan memperkaya segelintir kaum kapitalis saja.
3.      Allah Maha Kuasa terhadap segala sesuatu yang dikehendaki-Nya. Dia telah menciptakan kita dengan sistem yang sangat canggih dan telah menyiapkan bagi kita semua kebutuhan kita selama hidup di dunia ini. Bahkan sebelum kita dilahirkan-Nya ke dunia; saat kita berada dalam rahim ibu kita dan tidak bisa berbuat apa-apa, maka karunia-Nya selalu menyirami kehidupan kita. Kalau kita menjadikan Allah sebagai tujuan dan orientasi hidup, maka Allah akan memudahkan dan memberkahi hidup di dunia dan menyelamatkan kehidupan akhirat kita. Ini adalah janjinya pada setiap hamba yang hidupnya hanya untuk mengabdi dan beribadah kepada-Nya. Persoalan dunia ini amatlah sederhana bagi-Nya. Demikian pula halnya bagi orang yang hidupnya untuk ibadah kepada Allah, persoalan kehidupan dunia bukanlah menjadi tujuan utamanya dan yang menjadi tujuan hidupnya tetaplah kehidupan akhirat yang abadi. Inilah generasi yang bermutu dan berkualitas tinggi di mata Allah dan Rasul-Nya, bukan generasi yang orientasi hidupnya hanya kepentingan hidup di dunia yang fana dan sementara.



Kaum Muslimin rahimakumullah…!!
Generasi yang berkualitas itu hanya akan lahir dari sistem dan konsep pendidikan Islam, bukan dari konsep pendidikan sekuler, materialis dan kapitalis. Generasi yang bermutu ialah generasi muda yang beriman kepada Allah dan selalu menjadikan petunjuk Allah (Al-Qur’an) sebagai rambu-rambu kehidupan. Generasi muda yang memiliki hati yang bersih dan kasih sayang terhadap orang tua, keluarga dan masyarakatnya. Generasi yang berpendirian teguh dan tidak terpengaruh oleh lingkungan dan pergaulan yang tidak sehat, dan bahkan mereka yang mempengaruhinya ke arah kebaikan. Generasi yang berani menegakkan kebenaran dan menolak kebatilan, apapun resiko yang harus mereka alami. Generasi yang berani mengatakan bahwa Tuhan yang kami sembah dan taati adalah Tuhan yang menciptakan langit dan bumi ini. Generasi yang tidak akan pernah tunduk kepada tuhan selain hanya Allah karena mereka mengetahui dan menyadari bahwa ubudiyah (ibadah dan taat) kepada tuhan selain Tuhan Allah adalah kehancuran dan kebinasaan di dunia dan akhirat.

Kaum Muslimin rahimakumullah…!!!
Demikianlah khutbah ini, semoga Allah membantu dan menolong kita dalam membentuk generasi yang memiliki pijakan hidup yang kuat dan memiliki orientasi hidup yang benar, yakni Allah menjadi tujuan mereka. Rasul Saw adalah teladan mereka. Al-Qur’an adalah dustur (sistem hidup) mereka. Berjuang di jalan Allah adalah jalan mereka dan mati di jalan Allah adalah cita-cita mereka yang paling tinggi dan utama. Semoga Allah pilih kita menjadi orang-orang yang sukses dalam mewujudkan generasi Islam, generasi masa depan yang diharapkan. Semoga Allah berkenan menghimpunkan kita di syurga Firdaus yang paling tinggi bersama Rasul Saw, para shiddiqin, syuhada’, dan shalihin sebagaimana Allah himpunkan kita di tempat yang mulia ini. Allahumma amin…
بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم ونفعني وإياكم بما فيه من الآيات و الذكر الحكيم أقول قولي هذا وأستغفر الله لي ولكم إنه تعالى جواد كريم ملك رؤوف رحيم إنه هو السميع العليم ......



Baca Selengkapnya - Generasi Yang Kehilangan Orientasi Hidup

Rabu, 11 Mei 2011

Membalas Kejahatan dengan Kebaikan


Pada suatu hari Rasulullah saw bertamu ke rumah Abu Bakar Ash-Shidiq. Ketika sedang ngobrol dan temu kangen dengan Rasulullah, tiba-tiba datang seorang Arab Badui bergaya preman dan langsung mencela Abu Bakar. Makian kotor serta umpatan-umpatan kasar keluar dari mulut orang itu. Namun, Abu Bakar tdk menghiraukannya. Ia melanjutkan perbincangan dengan Rasulullah. Melihat hal ini, Rasulullah memberikan senyum terindahnya kepada Abu Bakar.
Merasa tidak berhasil dan dicuekin, orang Arab Badui itu kembali memaki Abu Bakar. Kali ini, makian dan hinaannya lebih kasar. Namun, dengan keimanan yang kokoh serta kesabarannya, kembali Abu Bakar  tidak menghiraukannya dan tetap membiarkan orang tersebut memaki. Rasulullah kembali memberikan senyum terindahnya.‎ Merasa makin dikacangin, maka semakin menjadi-jadi lah kemarahan orang Arab Badui ini.
Untuk ketiga kalinya, ia mencerca Abu Bakar dengan makian yang lebih menyakitkan. Kali ini, selaku manusia biasa yg memiliki hawa nafsu, Abu Bakar tidak dapat menahan amarahnya. Dibalasnya makian orang Arab Badui itu dengan makian pula. Terjadilah perang mulut, seketika juga nama-nama satu isi kebun binatang keluar semua, dari mulai kucing, kelinci sampai onta. Seketika itu juga, Rasulullah beranjak dari tempat duduknya dan langsung meninggalkan Abu Bakar tanpa mengucapkan salam. ‎
Melihat hal ini, selaku tuan rumah, Abu Bakar sadar dengan kesalahannya dan langsung berlari mengejar Rasulullah yg sudah sampai halaman rumah. Kemudian, Abu Bakar berkata, “Wahai Rasulullah, jika aku berbuat kesalahan, mohon jelaskan dan maafkan kesalahanku. Jangan biarkan aku dalam kebingungan.” Rasulullah lalu menjawab, “Sewaktu orang Arab Badui itu datang lalu mencelamu dan kamu tidak mnanggapinya, aku tersenyum karena banyak malaikat di sekelilingmu yang akan membelamu di hadapan Allah.”
Beliau melanjutkan, “Begitu pun yang ke-dua kali ketika ia terus menghinamu dan kamu tetap membiarkannya, maka para malaikat semakin bertambah banyak jumlahnya di sisimu. Oleh sebab itu, aku semakin tersenyum. Namun, ketika yang ke-tiga kali ia menghinamu dan kamu menanggapinya serta kamu membalas makiannya, maka seluruh malaikat pergi meninggalkanmu, dan hadirlah iblis di sisimu untuk semakin memanasimu. Oleh karena itu, aku tidak ingin berdekatan dengannya, dan aku tidak memberikan salam kepada kamu.”
.Sabar Dan Selalu Berbuat Baik
Islam adalah agama yang damai dan penuh keindahan. Islam mengajarkan umatnya agar terus menerus berbuat kebaikan kepada sesama manusia tanpa mempedulikan asal usul, status sosial, agama, jenis kelamin, dsb. Dalam salah satu ayat Al-Qur’an,“Dan berbuat baiklah kepada ibu-bapak, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil (orang yang bepergian) dan hamba sahayamu (pembantu).” (QS. An-Nisa [4]: 36).
Ayat ini mengajarkan untuk selalu berbuat baik kepada siapapun tanpa memandang faktor-faktor darimana orang itu berasal, seberapa kaya orang tersebut, apa jenis kelamin orang yang bersangkutan, dsb. Hal yang lumrah ada kalanya dalam hidup ini kita menemui tantangan luar biasa yang tak diinginkan, seperti dibenci banyak orang atas niat tulus dan perbuatan baik yang kita lakukan atau mungkin “ditusuk” dari belakang oleh teman-teman maupun keluarga dekat kita sendiri. Ironis bukan?
Bagi seorang pelajar atau mahasiswa, mungkin saja ada teman sekelas yang tidak suka dan berusaha menjatuhkan kita dengan berbagai cara, termasuk mungkin memfitnah atau menyebar isu yang tidak benar. Bagi seorang karyawan, mungkin saja sesama teman di kantor saling berusaha menjatuhkan dan dibuat agar nama kita jelek di depan bos dan tidak jadi dipromosikan. Bagi seorang pebisnis, mungkin saja pesaing kita melakukan cara-cara yang kotor dan bisnis yang tidak beretika. Setiap orang, tidak peduli apa profesi dan pekerjaannya, pasti akan menemu hal-hal seperti itu. Hidup itu keras bung! :)
.Saran saya kepada orang-orang seperti ini: jangan dibalas perbuatan jahat mereka! Karena kalau kita balas, ya berarti kita sama saja dengan mereka. Sama-sama sakit!! hehe… Tapi balaslah segala kejahatan yang orang lain lakukan kepada kita dengan kebaikan. Allah Swt telah mengajarkan di dalam Al-Qur’an, “Balaslah perbuatan buruk mereka dengan yg lebih baik. Kami lebih mengetahui apa yang mereka sifatkan.” (Q.S. Al-Mu’minun [23]: 96).
Hadapi saja semua tantangan dan masalah yang kita hadapi dalam hidup ini dengan penuh syukur. Karena memang begitulah kehidupan berjalan. Terkadang berada di atas dan di lain waktu berada di bawah. Terkadang, perbuatan baik yang kita lakukan malah dibalas dengan kejahatan oleh orang lain. Oleh karenanya, manakala kita melakukan sesuatu, jangan pernah berharap bahwa kita akan memperoleh sambutan hangat atau balasan yang serupa dari orang yang bersangkutan. Karena jika itu yg terjadi, bersiap-siaplah kita merasakan kekecewaan yang dalam.
Watak manusia sungguh beragam dan tak mesti sehaluan dengan apa yang kita inginkan. Pastinya kita menginginkan setiap orang berbuat baik kepada kita kan? Sayangnya dunia tidak selebar daun kelor (ga nyambung). Semua sikap yang tidak mengenakkan dari manusia, baik ataupun buruk, terimalah dengan penuh kesabaran. Bilamana kita mengindahkan ajaran Islam, balaslah dengan yg terbaik. Namun, bilamana membalas keburukan itu dengan kebaikan masih sulit dan berat, biarkan saja mereka. Jangan sekalipun kita terprovokasi. Inget selalu pepatah ini: “Anjing menggonggong kafilah tetap berlalu.”
Contoh nyata dari kesabaran menghadapi orang lain adalah apa yg ditunjukkan oleh Rasulullah SAW dalam dakwah beliau kepada kafir Quraisy di Makkah. Nabi Muhammad yang diutus oleh Allah SWT untuk menyucikan jiwa-jiwa kotor, hati kusam, dan mengajarkan akhlak karimah bukannya disambut dengan baik. Tapi malah dicemooh, dihina, difitnah, dan dihujat. Tidak jarang, bahkan beliau dilempari tulang belulang, kotoran unta dan diludahi ketika beribadah di Ka’bah. Namun, apakah beliau membalas semua tindakan keji itu dgn tindakan yang sama? Ternyata tidak!
Dalam peristiwa Thaif, ketika Rasulullah SAW datang bersama para sahabat mencari perlindungan, beliau malah dilempari batu hingga berdarah. Dalam kondisi yang demikian, ternyata bukan kemarahan dan dendam yang ditunjukkan Rasulullah saw. Beliau malah mendoakan orang-orang yg melemparinya agar segera mendapat hidayah dari Allah SWT. Padahal, para malaikat yg diutus oleh Allah SWT telah menawarkan kepada beliau untuk menghukum mereka. Ibaratnya kalau Rasulullah bilang “iya” saja kepada malaikat, maka itu orang-orang yang berbuat jahat kepada Rasulullah akan langsung dijadiin tempe mendoan semuanya alias benyek.
Tapi Rasulullah SAW menolak tawaran tersebut, malah beliau berbuat kebaikan kepada orang-orang yg menzalimi tersebut dengan mendoakan mereka agar mendapat hidayah. Terbukti, sebagian besar dari mereka memeluk agama Islam dan menjadi pembela Rasulullah paling depan di medan-medan perang. Subhanallah.. Inilah kehebatan dari seorang Nabi Muhammad saw yang membalas kejahatan dengan penuh kebaikan, dan akhirnya justru malah kemenangan yang didapat, yaitu orang-orang yang tadinya kafir dan memusuhi, malah berbalik memeluk agama Islam karena akhlak terpuji yang ditunjukkan oleh Rasulullah.
Tidak salah memang bahwa Nabi Muhammad saw adalah contoh manusia terbaik yang harus kita ikuti. “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab:21).
.
Apa yang dilakukan Rasulullah saw membuat saya teringat dengan istilah yang sangat menarik, “you may lose the battle but you win the war”. Kata battledi sini diistilahkan sebagai perang kecil dan war adalah sebuah perang yang lebih besar. Inilah yang disebut mengalah untuk menang. Kita sering mengartikan bahwa yang namanya mengalah itu ya berarti kalah, padahal tidak demikian. Mengalah bukan berarti kalah, namun mengalah untuk merangkul dan selanjutnya untuk menang.
Dalam cerita di atas tadi, Nabi Muhammad saw boleh saja kalah dalam battle(pertempuran kecil), namun beliau menang mutlak dalam war (perang yang lebih besar). Kekalahan battle Rasulullah adalah beliau dimaki-maki, dilempari batu bahkan diludahi setiap harinya. Tapi Rasululah menahan diri untuk tidak membalas karena beliau tahu bahwa ada sesuatu yang lebih besar yang harus dia perjuangkan, yaitu tugas utamanya berada di muka bumi ini untuk memperbaiki akhlak manusia dan menyiarkan syiar Islam seluas-luasnya sebagai agama yang rahmatan lil ‘aalamiin (rahmat bagi seluruh alam semesta).
Lalu akhirnya jelas sekali, kemenangan war Rasulullah adalah pada akhirnya orang-orang yang tadinya membenci dan memusuhi, bahkan ingin membunuh beliau, malah mengucapkan syahadat, memeluk agama Islam dan menjadi tameng-tameng hidup yang paling setia bagi Rasulullah saw dalam setiap perang. Inilah kemenangan besar Nabi Muhammad saw yang berhasil menjalankan misinya di muka bumi yang menyiarkan syiar Islam dan membuat para pembencinya memeluk agama Islam atas kesadaran sendiri dikarenakan perbuatan baik yang dicontohkan Rasulullah saw.
Allah Swt Maha Adil
Islam adalah agama yang sangat menjunjung tinggi keadilan. Allah Swt juga memiliki nama lain yang berhubungan dengan keadilan seperti Al-‘Adl (Yang Maha Adil) atau Al-Hakim (Yang Maha Menghakimi). Di dalam Al-Qur’an sendiri juga dijelaskan bahwa segala perbuatan, baik ataupun buruk, sekecil apapun, pasti akan mendapat ganjaran dari Sang Maha Kuasa.
“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah (biji atom), niscaya dia akan menerima (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah (biji atom) pun, niscaya dia akan menerima (balasan)nya.” (QS. Al-Zalzalah [99]:7-8)
Jadi, Bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian, jangan khawatir untuk selalu berbuat baik. Kita harus meyakini bahwa Allah Maha Adil dan segala perbuatan kita pasti akan ada balasannya, baik di dunia ataupun di akhirat nanti. Jika kita berbuat baik, tentunya kebaikan pula balasan yang akan diberikan oleh Allah Swt. “Tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan pula.” (QS. Ar-Rahman [55]: 60).
Maka dari itu berbuat baiklah kepada siapapun, bahkan kepada orang yang telah berbuat jahat kepada kita. Mengapa? Karena kebaikan tersebut dilipatgandakan di sisi-Nya. Hal ini dijelaskan di dalam Al-Qur’an, “Mereka itu diberi pahala dua kali lipat disebabkan kesabaran mereka dan mereka menolak kejahatan dengan kebaikan dan sebagian dari apa yang telah Kami rezekikan kepada mereka, mereka nafkahkan.”(QS. Al-Qashash [28]:54)
Coba perhatikan juga ayat ini, “Siapa yang datang membawa kebaikan, baginya pahala yang lebih baik daripada kebaikannya itu; dan siapa yang datang membawa kejahatan, tidaklah diberi balasan kepada orang-orang yang telah mengerjakan kejahatan itu, melainkan seimbang dengan apa yang dahulu mereka kerjakan.”(SQ. Al-Qashash [28]:84)
Dalam ayat di atas jelas bahwa segala kebaikan akan mendapat balasan yang lebih baik dan setiap kejahatan dibalaskan setimpal dengan apa yang dilakukan. Di sinilah letak kebaikan dan keadilan Allah Swt. Dia memberikan ganjaran yang lebih kepada orang-orang yang berbuat kebaikan. Namun untuk pelaku kejahatan dibalas setimpal dengan kejahatannya. Allah SWT tidak menzolimi sedikitpun terhadap orang-orang yang berbuat jahat. Mantap kan??? hehehe…
Akhirnya… Selamat berbuat kebaikan… Dimanapun, kapanpun, dan kepada siapapun… Mengenai balasannya, serahkan kepada Allah, Dia-lah hakim yang paling adil di seantero jagat bumi…
Baca Selengkapnya - Membalas Kejahatan dengan Kebaikan

Kamis, 21 April 2011

Mensykuri Nikmat Bertambah Usia


Tepat hari ini dan bertepatan dengan peringatan Hari Kartini, Kamis, 21 April 2011, 43 tahun yang lalu Allah SWT memperkenankan salah seorang hamba-Nya untuk menikmati kehidupan di luar alam rahim untuk pertama kalinya. Ya, 21 April merupakan hari paling bersejarah dalam hidupku. Inilah saat pertama kali aku lahir ke muka bumi. Inilah saat pertama kali aku menghirup udara di alam raya ini, setelah sebelumnya ruang hidupku hanya berbatas dinding-dinding perut ibuku.
Sebuah nikmat tak terperikan yang telah dianugerahkan Allah kepadaku. Aku terpilih menjadi salah satu duta-Nya untuk mengemban misi kekhalifahan di muka bumi ini. Nikmat yang tidak cukup sekedar disyukuri dengan  kata-kata, tentunya. Nikmat yang harus terus dibuktikan dengan tindakan nyata, berupa pengabdian serta penghambaan sepanjang hayat masih di kandung badan.
Alangkah sombongnya manusia, ketika anugerah berupa keberkenanan Allah untuk memberinya kesempatan hidup di dunia ini tidak dianggap sebuah nikmat yang harus disyukuri. Betapa angkuhnya manusia, ketika ia tidak menyadari bahwa kehadirannya di muka bumi ini adalah atas izin dan kehendak-Nya. Padahal, sejumlah firman-Nya menyebutkan bahwa tidak ada sesuatu pun yang terjadi di muka bumi ini, kecuali telah Allah tuliskan (tetapkan) sebelumnya.
Maka, sebagai ciptaan (makhluk)-Nya yang telah diberi kesempatan untuk  menikmati indahnya dunia dengan segala fasilitas yang diberikan oleh-Nya, sudah selayaknya aku mensyukuri semua ini dengan membuktikan bakti dan pengabdianku pada-Nya.
Kini, bertambahnya usia, yang pada hakekatnya berkurangnya jatah waktu hidupku di alam fana ini, ingin aku isi dengan hal-hal positif sesuai dengan yang telah digariskan-Nya dalam Kitab suci Al-Quran, dan juga melalui sabda-sabda Nabi-Nya, yakni Muhammad Saw.
Aku ingin menjadi orang yang lebih baik dari sebelumnya. Aku ingin menjadi lebih bermanfaat, bagi diriku sendiri dan orang lain. Aku ingin setiap kehadiranku, di mana pun aku berada mampu memberikan nilai positif pada sekelilingku. Bertambah usia, bukan untuk dirayakan dengan hal-hal kontraproduktif, yang justru melenakan dari makna hakiki serta esensi pertambahan usia. Bertambah usia, tidak untuk dijadikan kesempatan merasa ‘lebih’ dari orang lain. Tetapi, pertambahan usia hendaknya dijadikan sarana untuk merefleksi, introspeksi diri atas apa yang telah diperbuat selama ini. Apakah rentang kehidupan yang telah dijalani lebih bernilai positif, ataukah justru sebaliknya? Apakah selama diberi kesempatan hidup hingga saat ini, sudah dimanfaatkan untuk beramal sholih atau tidak?
Berapa pun lamanya usia hidup kita, berapa pun panjangnya umur kita, tidak akan berarti apa-apa ketika tidak diisi dengan serangkaian aktivitas positif (amal sholih). Rasulullah SAW pernah memberikan statemen: “Sebaik-baik manusia adalah yang diberi umur panjang dan diisi dengan amal sholih. Dan seburuk-buruk manusia adalah yang diberi umur panjang dan umurnya dihabiskan untuk hal-hal negatif”.
Untuk itu, berkaitan dengan upaya mensyukuri pertambahan usia, yang kini sudah menginjak angka 43 ini, saya memohon kepada Allah SWT untuk selalu diberi keteguhan hati, kesabaran jiwa dalam menjalani hidup dan kehidupan di dunia yang penuh dengan godaan ini, agar senantiasa berada di jalan-Nya. Aku memanjatkan doa kepada-Nya agar sisa umur yang entah masih berapa lama lagi bisa aku manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Aku ingin terus menunjukkan pengabdianku pada-Nya, baktiku pada kedua orang tuaku, serta menenbar kebaikan kepada sesama, sebagai ladang amal, investasi akhirat yang kelak akan aku tuai hasilnya di hadapan-Nya.
Semoga bertambahnya usia ini menjadikan aku lebih baik dari sebelumnya dalam segala hal. Amiin..Ya Rabbal ‘Alamin…
Baca Selengkapnya - Mensykuri Nikmat Bertambah Usia

Selasa, 05 April 2011

Pergaulan Bebas Biang Kerusakan


Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu, dalam ucapannya yang populer pernah berkata, “Dulunya kita adalah kaum yang paling hina, kemudian Allah Subhanahu wa Ta’lamemuliakan kita dengan agama Islam, maka kalau kita mencari kemuliaan dengan selain agama Islam ini, pasti Allah Subhanahu wa Ta’la akan menjadikan kita hina dan rendah[1].”
Nasehat emas dari shahabat yang mulia radhiallahu ‘anhu ini ditujukan kepada mereka yang mengaku beragama Islam tapi justru tidak merasa bangga dan mulia dengan keislaman mereka, sehingga mereka justru lebih tertarik mengikuti gaya hidup orang-orang yang jauh dari petunjuk Islam dan lebih percaya dengan teori-teori buruk yang mereka kemukakan.
Allah Subhanahu wa Ta’la memerintahkan kepada orang-orang yang beriman untuk merasa bangga dan puas dengan karunia yang dilimpahkAn-Nya kepada mereka, yaitu petunjuk dalam syariat-Nya yang diturunkAn-Nya untuk kebaikan dan kemaslahatan hidup manusia. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
{قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ}
“Katakanlah, ‘Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka (orang-orang yang beriman) bergembira (berbangga), kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa (kemewahan duniawi) yang dikumpulkan (oleh manusia).’” (QS. Yunus: 58).
Karunia Allah dalam ayat ini ditafsirkan oleh para ulama ahli tafsir dengan keimanan kepada-Nya, sedangkan Rahmat Allah ditafsirkan dengan Alquran[2].
Sebagaimana sebaliknya, berpalingnya manusia dari mengamalkan petunjuk-Nya dalam kehidupan mereka adalah sebab utama dan terbesar yang mendatangkan kesengsaraan dan penderitaan hidup yang tiada hentinya bagi mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
{وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكاً وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى}
“Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatAn-Ku, maka sesungguhnya dia (akan merasakan) kehidupan yang sempit (di dunia)[3], dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Thaaha: 124).
Imam Asy-Syaukani berkata, “Makna ayat ini: Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan (memberikan balasan) bagi orang yang mengikuti petunjuk-Nya dan berkomitmen dengan agama-Nya dengan kehidupan yang (penuh) kenikmatan di dunia, tanpa ada kesedihan, kegundahan dan kesusahan (dalam) dirinya…Dan Dia menjadikan (memberikan balasan) bagi orang yang enggan mengikuti petunjuk-Nya dan berpaling dari agama-Nya dengan kehidupan yang sempit serta (penuh dengan) kepayahan dan penderitaan (di dunia). Bersamaan dengan semua penderitaan yang menimpanya di dunia, di akhirat (kelak) dia akan (merasakan) penderitaan, kepayahan dan kesempitan hidup yang lebih berat lagi[4].”
Islam melarang segala bentuk kerusakan dan keburukan
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
{إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ}
“Sesungguhnya Allah memerintahkan (kepadamu) untuk berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu daoat mengambil pelajaran.” (QS.  An-Nahl: 90).
Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa semua perkara yang dilarang oleh Allah Subhanahu wa Ta’la dalam Islam pasti membawa kepada keburukan dan kerusakan, sebagaimana semua perkara yang diperintahkAn-Nya pasti membawa kepada kebaikan dan kemaslahatan[5].
Dalam ayat lain Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang setan dan godaannya kepada manusia,
{إِنَّمَا يَأْمُرُكُمْ بِالسُّوءِ وَالْفَحْشَاءِ وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُون}
“Sesungguhnya syaithan itu hanya menyuruh kamu berbuat buruk (semua maksiat) dan keji, dan mengatakan tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al-Baqarah:169).
Ayat yang agung ini menunjukkan bahwa semua perbuatan maksiat yang yang dilarang dalam agama adalah keburukan dan merupakan ajakan setan untuk memalingkan manusia dari jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala[6].
Pergaulan bebas dan kerusakannya
Termasuk perkara yang diharamkan dalam Islam karena besarnya kerusakan yang ditimbulkannya adalah pergaulan bebas antara laki-laki dan perempuan tanpa ada ikatan yang dibenarkan dalam syariat. Bahkan perbuatan ini merupakan biang segala keburukan dan kerusakan yang terjadi di masyarakat.
Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam telah mengingatkan besarnya kerusakan dan fitnah yang ditimbulkan oleh perempuan terhadap laki-laki dalam sabda beliau shallallahu ‘alahi wasallam: “Aku tidak meninggalkan setelahku fitnah (keburukan/kerusakan) yang lebih berbahaya bagi kaum laki-laki melebihi (fitnah) kaum perempuan[7].”
Imam Ibnul Qayyim menjelaskan hal ini dalam ucapan beliau, “Tidak diragukan lagi bahwa membiarkan kaum perempuan bergaul bebas dengan kaum laki-laki adalah biang segala bencana dan kerusakan, bahkan ini termasuk penyebab (utama) terjadinya berbagai melapetaka yang merata. Sebagaimana ini juga termasuk penyebab (timbulnya) kerusakan dalam semua perkara yang umum maupun khusus. Pergaulan bebas merupakan sebab berkembangpesatnya perbuatan keji dan zina, yang ini termasuk sebab kebinasan massal (umat manusia) dan wabah penyakit-penyakit menular yang berkepanjangan[8].”
Ketika para pelacur bercampur (dengan bebas) bersama pasukan Nabi Musa ‘alahissalam, sehingga tersebarlah perbuaan zina di antara mereka, maka Allah menimpakan kepada mereka wabah penyakit menular, yang berakibat matinya tujuh puluh ribu orang dalam satu hari. Dan kisah ini sangat populer (disebutkan) dalam kitab-kitab tafsir.
Oleh karena itu, termasuk penyebab besar (terjadinya bencana) kematian massal adalah banyaknya (terjadi) perbuatan zina karena membiarkan kaum perempuan bergaul bebas dengan kaum laki-laki dan berjalan dihadapan mereka dengan bersolek dan berdandan.
Seandainya para pihak yang berwenang mengetahui kerusakan (besar yang ditimbulkan) dari perbuatan ini dalam (urusan) dunia dan masyarakat – belum lagi urusan agama – maka mereka pasti akan melarang dengan sekeras-kerasnya perbuatan tersebut.
(Shahabat yang mulia) Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata, “Jika perbuatan zina telah nampak (tersebar) di suatu negeri maka Allah akan membinasakan negeri tersebut[9].”
Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz lebih menegaskan hal ini dalam ucapan beliau, “Dalil-dali (dari Al-Qur’an dan hadits Nabishallallahu ‘alahi wasallam) secara tegas menunjukkan haramnya (laki-laki yang) berduaan dengan perempuan yang tidak halal baginya, (demikian pula diharamkan) memandangnya, dan semua sarana yang menjerumuskan (manusia) ke dalam perkara yang dilarang oleh Allah. Dalil-dalil tersebut sangat banyak dan kuat (semuanya) menegaskan keharaman pergaulan bebas, karena membawa kepada perkara (kerusakan) yang sangat buruk akibatnya… Maka seruan propaganda (yang menyerukan agar) perempuan ikut terjun di tempat-tempat kerja yang khusus bagi laki-laki adalah ajakan yang sangat berbahaya bagi (kebaikan) masyarakat Islam, yang termasuk dampak (negatif) terbesarnya adalah pergaulan bebas yang termasuk sarana terbesar (yang menjerumuskan kepada) perbuatan zina, yang ini (pada gilirannya) akan menghancurkan masyarakat dan merusak nilai-nilai luhur serta budi pekerti baik mereka[10].”
Islam mengharamkan semua sebab yang membawa kepada “pergaulan bebas
Dalam rangka mencegah keburukan dan kerusakan besar akibat pergaulan besar, agama Islam mengharamkan semua sebab yang menjerumuskan ke dalam perbuatan buruk ini, di antaranya[11]:
1- Diharamkannya menemui perempuan yang tidak halal dan berduaan dengannya, termasuk berduaan dengan sopir di mobil, dengan pembantu di rumah, dengan dokter di tempat prakteknya dan lain-lain.
Banyak dalil yang menunjukkan hal ini, di antaranya sabda Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam,
“Tidaklah sekali-kali seorang laki-laki berduaan dengan seorang perempuan kecuali setan akan menjadi yang ketiga[12].”
2- Diharamkannya ber-safar (melakukan perjalanan jauh) bagi perempuan tanpa laki-laki yang menjadi mahram-nya (suami, ayah, paman atau saudara laki-lakinya).
Dalil yang menunjukkan hal ini juga banyak sekali, di antaranya sabda Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam“Janganlah sekali-kali seorang perempuan bersafar kecuali bersama dengan mahramnya[13].”
3- Diharamkannya memandang dengan sengaja kepada lawan jenis, berdasarkan firman Allah Subhanallahu wa Ta’ala,
{قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ. وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا}
“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. Dan katakanlah kepada wanita yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka, dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari mereka.’” (QS. An-Nuur: 30-31).
4- Diharamkannya menemui seorang perempuan tanpa mahram, meskipun dia saudara suami (ipar), berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam,
“Waspadalah kalian (dari perbuatan) menemui perempuan (tanpa mahram)”. Ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam, bagaimana dengan Al-hamwu (ipar dan kerabat suami lainnya)?” Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam bersabda, ‘Al-Hamwu adalah kebinasaan[14].’
Artinya: fitnah yang ditimbulkannya lebih besar karena bisanya seorang perempuan menganggap biasa jika berduaan dengan kerabat suaminya[15].”
5- Diharamkannya laki-laki menyentuh perempuan, meskipun untuk berjabat tangan[16].
Berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam,
“Sungguh jika kepala seorang laki-laki ditusuk dengan jarum dari besi lebih baik baginya dari pada dia menyentuh seorang perempuan yang tidak halal baginya[17].”
6- Diharamkannya laki-laki yang menyerupai perempuan dan sebaliknya.
Berdasarkan hadits berikut,
Dari shahabat yang mulia, Abdullah bin ‘Abbas radhiallahu ‘anhu, beliau berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam melaknat laki-laki yang menyerupai perempuan dan melaknat perempuan yang menyerupai laki-laki[18].”
7- Disyariatkan dan dianjurkannya bagi kaum perempuan untuk shalat di rumah dan itu lebih baik/utama daripada shalat mereka di masjid, dalam rangka menghindari fitnah yang timbul jika mereka sering keluar rumah.
Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam bersabda, “Janganlah kalian melarang para wanita (untuk melaksanakan shalat) di masjid, meskipun (shalat mereka) di rumah-rumah mereka lebih baik bagi mereka[19].”
8- Diharamkannya perempuan sering keluar rumah tanpa ada keperluan yang dibenarkan dalam syariat dengan syarat tidak berdandan dan bersolek karena akan menimbulkan fitnah bagi laki-laki. Allah Subhanahu wa Ta’laberfirman,
{وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى، وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآَتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ، إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا}
“Dan hendaklah kalian (wahai istri-istri Nabi) menetap di rumah-rumah kalian dan janganlah kalian ber-tabarruj (sering keluar rumah dengan berhias dan bertingkah laku) seperti (kebiasaan) wanita-wanita Jahiliyah yang dahulu, dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait (istri-istri Nabi) dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS.  Al-Ahzaab:33).
Dan dalam hadits yang shahih Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam bersabda, “Sesungguhnya wanita adalah aurat, maka jika dia keluar (rumah) setan akan mengikutinya (menghiasainya agar menjadi fitnah bagi laki-laki), dan keadaanya yang paling dekat dengan Rabbnya (Allah Subhanallahu wa Ta’ala) adalah ketika dia berada di dalam rumahnya[20].”
9- Diharamkannya perempuan keluar rumah dengan memakai wangi-wangian dalam bentuka apapun, karena akan menimbulkan fitnah yang besar.
Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam bersabda, “Seorang wanita, siapapun dia, jika dia (keluar rumah dengan) memakai wangi-wangian, lalu melewati kaum laki-laki agar mereka mencium bau wanginya maka wanita adalah seorang pezina[21].”
Solusi dan penutup
Dari pemaparan ringkas di atas, makin jelaslah bagi kita betapa agungnya syariat Islam yang diturunkan oleh AllahSubhanahu wa Ta’la untuk menjaga kebaikan dan kesucian diri manusia, lahir dan batin. Allah Subhanahu wa Ta’alaberfirman,
{لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولاً مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلالٍ مُبِينٍ}
“Sungguh Allah telah memberi karunia (yang besar) kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus kepada mereka seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, menyucikan (diri) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab (Al-Qur-an) dan Al-Hikmah (as-Sunnah). Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Rasul) itu, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (QS.  Ali ‘Imraan: 164).
Makna firman-Nya menyucikan (diri) mereka adalah membersihkan mereka dari keburukan akhlak, kotoran jiwa dan perbuatAn-perbuatan jahiliyyah, serta mengeluarkan mereka dari kegelapAn-kegelapan menuju cahaya (hidayahAllah Subhanallahu wa Ta’ala)[22].
Terkhusus dalam masalah hijab (pemisah) antara laki-laki dan perempuan, Allah Subhanahu wa Ta’la menyebutkan hikmah yang agung dari ketentuan syariat ini dalam firman-Nya,
{وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ ذَلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ}
“Dan apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri-isteri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka.” (QS. Al-Ahzaab:53).
Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu syaikh berkata,, “(Dalam ayat ini) Allah menyifati hijab/tabir sebagai kesucian bagi hatinya orang-orang yang beriman, laki-laki maupun perempuan, karena mata manusia kalau tidak melihat (sesuatu yang mengundang syahwat, karena terhalangi hijab/tabir) maka hatinya tidak akan berhasrat (buruk). Oleh karena itu, dalam kondisi ini hati manusia akan lebih suci, sehingga (peluang) tidak timbulnya fitnah (kerusakan) pun lebih besar, karena hijab/tabir benar-benar mencegah (timbulnya) keinginAn-keinginan (buruk) dari orang-orang yang ada penyakit (dalam) hatinya[23].”
Juga hikmah yang agung dalam kewajiban memakai jilbab (pakaian yang menutupi semua aurat secara sempurna[24]) bagi perempuan ketika berada di luar rumah, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
{يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لأزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا}
“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin agar hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, sehingga mereka tidak diganggu/disakiti. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzaab:59).
Dalam ayat ini Allah menjelaskan kewajiban memakai jilbab bagi perempuan muslimah dan hikmah dari hukum syariat ini, yaitu, “Supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, sehingga mereka tidak diganggu/disakiti.”
Syaikh Abdurrahman As-Sa’di berkata, “Ini menunjukkan bahwa gangguan (bagi wanita dari orang-orang yang berakhlak buruk) akan timbul jika wanita itu tidak mengenakan jilbab (yang sesuai dengan syariat). Hal ini dikarenakan jika wanita tidak memakai jilbab, boleh jadi orang akan menyangka bahwa dia bukan wanita yang ‘afifah(terjaga kehormatannya), sehingga orang yang ada penyakit (syahwat) dalam hatiya akan mengganggu dan menyakiti wanita tersebut, atau bahkan merendahkan/melecehkannya… Maka dengan memakai jilbab (yang sesuai dengan syariat) akan mencegah (timbulnya) keinginAn-keinginan (buruk) terhadap diri wanita dari orang-orang yang mempunyai niat buruk[25].”
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’la menjadikan tulisan ini bermanfaat dan sebagai nasehat bagi kaum muslimin untuk kembali kepada agama mereka yang merupakan kemuliaan mereka yang sebenarnya, dengan menjalankan semua petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menjauhi semua larangan-Nya.
وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين
Penulis: Ustadz Abdullah bin Taslim Al-Buthani, M.A.

[1] Riwayat Al Hakim dalam Al Mustadrak (1/130), dinyatakan shahih oleh Al Hakim dan disepakati oleh Adz Dzahabi.
[2] Lihat keterangan Imam Ibnul Qayyim dalam kitab Miftahu Daaris Sa’aadah (1/227).
[3] Tafsir Ibnu Katsir (3/227).
[4] Kitab Fathul Qadiir (5/34).
[5] Lihat kitab Taisiirul Kariimir Rahmaan, (hal. 447).
[6] Lihat kitab Tafsir Ibnu Ktsir, (hal. 1/63).
[7] HR. Bukhari (no. 4808) dan Muslim (no. 2740).
[8] Seperti penyakit AIDS dan penyakit-penyakit kelamin berbahaya lainnya, na’uudzu billahi min dzaalik.
[9] Kitab Ath-Thuruqul Hukmiyyah, (hal. 407-408).
[10] Majallatul buhuutsil islaamiyyah (7/343).
[11] Lihat kitabHiraasatul Fadhiilah (hal. 101-102), dengan tambahan dari penulis.
[12] HR. Tirmidzi (no. 2165) dan Ahmad (1/26), dinyatakan shahih oleh imam Tirmidzi dan Syaikh Al-Albani.
[13] HR. Bukhari (no. 2844) dan Muslim (no. 1341).
[14] HR. Bukhari (no. 4934) dan Muslim (no. 2172).
[15] Lihat kitab Fathul Baari, (9/332).
[16] Lihat keterangan Syaikh Al-Albani dalam Silsilatul Ahaadiitsish Shahiihah, (1/395).
[17] HR ath-Thabarani dalam Al-Mu’jamul Kabiir (no. 486 dan 487) dan Ar-Ruyani dalam Al-Musnad, (2/227), dinyatakan hasan oleh syaikh Al-Albani dalam Silsilatul Ahaadiitsish Shahiihah, (no. 226).
[18] HR. Bukhari (no. 5546).
[19] HR. Abu Dawud (no. 567), Ahmad (2/76) dan Hakim (no. 755), dinyatakan shahih oleh imam Hakim, Adz-Dzahabi dan Syaikh Al-Albani.
[20] HR. Ibnu Khuzaimah (no. 1685), Ibnu Hibban (no. 5599) dan At-Thabrani dalam Al-Mu’jamul  Ausath, (no. 2890), dinyatakan shahih oleh Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, Al-Mundziri dan Syaikh Al-Albani dalam Silsilatul Ahaaditsish Shahiihah, (no. 2688).
[21] HR. An-Nasa’i (no. 5126), Ahmad (4/413), Ibnu Hibban (no. 4424) dan al-Hakim (no. 3497), dinyatakanshahih oleh imam Ibnu Hibban, Al-Hakim dan Adz-Dzahabi, serta dinyatakan hasan oleh Syaikh Al-Albani.
[22] Lihat Tafsir Ibnu Katsir, (1/267).
[23] Kitab Al-Hijaabu wa Fadha-iluhu, (hal. 3).
[24] Lihat kitab Hiraasatul Fadhiilah, (hal. 53).
[25] Kitab Taisiirul Kariimir Rahmaan, (hal. 489).
Baca Selengkapnya - Pergaulan Bebas Biang Kerusakan